Feeds:
Posts
Comments

Hari ini, untuk mengisi waktu luang, aku menjadi sukarelawan di perpustakaan Geraldton, Australia Barat. Tugasku membantu pertugas perpustakaan melakukan pelayanan ‘home bound’. Home bound maksudnya pelayanan perpustakaan keliling untuk orang-orang yang tidak dapat datang ke perpustakaan. Mereka adalah orang-orang tua yang kebanyakan tinggal di Panti Jompo.

Ini hari pertamaku bertugas, jadi Marry (petugas perpustakaan) menjelaskan banyak hal. Dia menunjukkan folder berisi daftar orang yang akan dikunjungi, alamat, dan keterangan. Yang dimaksud dengan keterangan adalah:

LP: maksudnya Large Print. Kebanyakan orang tua milih buku yang tulisannya besar, agar lebih mudah dibaca.

SP: maksudnya Small Print. Meskipun sudah tua, ada sebagian pelanggan yang tidak suka buku-buku bertulisan besar.

Mystery/ Thriller/ History/ CD/ DVD/ casette: keterangan buku jenis apa yang mereka suka baca. Ada pelanggan yang tidak suka buku romance sama sekali, ada yang sangat suka dst. Pelanggan juga boleh meminjam CD, kaset atau DVD.

Doesn’t always come out to the van: maksudnya orang tersebut tidak selalu keluar rumah untuk memilih langsung buku yang akan mereka baca di mobil perpustakaan keliling. Jadi petugas harus mengetuk pintu untuk memberi tahu bahwa mereka datang. Sebagian pelanggan sudah duduk-duduk di luar rumah menunggu mobil perpustakaan keliling datang.

choose 6 DVD, drama, no war: maksudnya, orang ini meminta petugas perpustakaan untuk memilih 6 DVD drama yang bukan mengenai perang. Orang ini akan senang hati menerima 6 DVD itu tanpa perlu memilih sendiri.

Ada pula pelanggan yang tidak pernah bertemu dengan petugas. Jadi petugas memilih buku untuk mereka tergantung pesanan, kemudian meletakkannya di dekat pintu, dan mengambil buku-buku yang sudah dibaca untuk dikembalikan ke perpustakaan.

Marry juga mengajari bagaimana melakukan scanning barcode buku saat peminjaman dan pengembalian.

Banyak hal-hal menarik yang kupelajari dari pengalaman pertama ini.

Aku belajar betapa personalnya pelayanan perpustakaan kepada pelanggannya. Hal ini tercermin dari pemilihan buku oleh petugas. Ada pelanggan yang buta, karenanya petugas tidak bisa memilih buku, namun mereka harus membawakan kaset-kaset untuknya. Petugas harus dapat memilih dengan benar buku yang pelanggannya mau baca, dan belum pernah dibaca. Unik sekali cara pelanggan memberi tanda bahwa mereka sudah pernah membaca suatu buku. Kebanyakan pelanggan akan menulis inisial nama mereka di kertas putih yang ditempel di halaman pertama buku tersebut. Tapi ada juga pelanggan yang menggambar bentuk, seperti awan, untuk menandakan bahwa dia sudah membaca suatu buku. Ini membuat petugas ingat. Marry memintaku memastikan bahwa buku-buku yang akan diberikan ke Mrs Hew belum ada gambar awan-nya.

Dengan Mrs Hew pula, ada suatu pelajaran yang benar-benar mengena. Ceritanya, sebagian buku yang Marry pilih, tidak tepat. (Marry juga belum lama menjalankan program ini, jadi belum hafal). Mrs Hew tidak suka buku bertulisan besar, dan ada satu buku yang dia tidak suka temanya. Saat kami sampai ke tujuan berikutnya, ternyata Mrs Hew mengikuti, naik mobil. Dengan tertatih-tatih, Ia mengembalikan buku-buku itu dan meminta petugas mengganti dengan buku bertulisan kecil, dan sesuai dengan minatnya. Marry agak panik karena dia tidak yakin di mobil ada buku bertulisan kecil dengan tema misteri. Dia berusaha keras menelusuri deretan buku untuk menemukan buku yang kira-kira akan disukai Mrs Hew. Mrs Hew melihat ke arahku yang berdiri di sampingnya tanpa tahu harus berbuat apa. Dia berkata, “Maaf, saya tidak bermaksud merepotkan, tapi buku benar-benar penting bagi saya. Membaca buku adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan.” Seketika itu juga aku sadar, betapa pentingnya buku bagi mereka, orang-orang itu. Mereka mengisi hari tuanya hanya dengan membaca buku. Hiburan mereka. Mereka tidak hidup dengan keluarganya. Sebagian hidup sendiri di rumah, sebagian tinggal di panti jompo. Memang, di panti jompo ada kelas craft, dimana mereka bisa membuat kerajinan, atau ada kelas senam, tapi setelah itu? Membaca buku menjadi salah satu pilihan tepat untuk melewatkan waktu.

Karena itu, aku mengerti, kenapa saat kami bilang “sampai jumpa 2 minggu lagi”, ada pelanggan yang ngotot bilang “see you next week”. Mereka benar-benar butuh buku datang sering-sering.

Saat nanti waktuku habis,
aku hanya berharap,
aku tidak mengecewakanmu.
Aku ingin kau senang atas apa yang telah kulakukan
pada waktu yang telah kau berikan.

Geraldton, 18 Juli 2008
23:27

Bosan

Kata Ayahku, aku tidak boleh sedih atau sebal ketika aku merasa bosan. Bosan adalah suatu sistem yang sangat mengagumkan yang di tanam langsung ke dalam pikiran manusia. Bosan adalah sistem yang membuat manusia selalu berkembang.

Manusia akan merasa bosan pada suatu tahap dimana ia merasa sudah mengerti, menguasai atau terbiasa pada hal-hal di sekitarnya.
Ketika seseorang merasa bosan, mau tidak mau ia harus melakukan sesuatu diluar kebiasaannya, mencoba sesuatu yang baru, atau belajar sesuatu yang baru untuk mengusir perasaan bosannya.
Kalau manusia tidak bosan, mungkin mereka tidak akan mencoba sesuatu yang baru.

Karena itulah, Ayahku berkata bahwa aku harus menerima perasaan bosan sebagai suatu tahap yang harus dilewati dalam hidup ini untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Geraldton, 16 Juli 2008

23:40

Perth adalah ibukota Australia Barat yang terletak di tepi Swan River. Kebanyakan kantor pemerintah, bisnis, dan tempat perbelanjaan terletak di pusat kota. Australia Barat memiliki populasi sebanyak 2 juta orang. Dua pertiga dari jumlah tersebut tinggal di Perth dan sekitarnya. Orang-orang yang tinggal di Perth berasal dari berbagai negara, kebudayaan, agama dan latar belakang.

Cuaca Perth

Bulan Februari cuaca di Perth sangat panas. Suhu paling tinggi 38 derajat, dan paling rendah 19 derajat celcius. Bulan paling dingin adalah bulan Juli, dengan suhu paling tinggi 18 derajat dan paling rendah 7 derajat celcius.

Pendidikan

Perth memiliki universitas, yaitu University of Western Australia, Murdoch University, Curtin University, Edith Cowan University dan The University of Notre Dame.

Kendaraan Umum

Transperth adalah sistem transportasi di Perth. Transperth terdiri dari bis, kereta dan ferry. Transperth menjangkau wilayah Perth dan suburb di sekitarnya. Untuk menggunakan transperth, pengguna bisa membeli tiket atau menggunakan kartu smart rider.
Smart rider
Smart rider adalah pengganti tiket. Pengguna smart rider dapat memasukkan kredit ke dalam kartu tersebut dan menggunakannya untuk membayar ongkos perjalanan. Kartu ini bersifat isi ulang, jadi ketika kredit pengguna sudah habis, bisa diisi ulang. Cara memakai smart rider adalah dengan menyentuhkan smart rider di depan sensor yang ada di setiap bis, ferry atau terminal setiap kali pengguna naik dan turun dari kendaraan.
Journey Planner
Salah satu pelayanan yang diberikan Transperth adalah Journey Planner. Pelayanan online ini membantu para calon penumpang untuk menentukan jenis kendaraan (bis, kereta atau ferry) apa yang perlu mereka tumpangi, waktu keberangkatan dan waktu tiba, dan rute perjalanan. Para calon penumpang hanya perlu mengetik tempat dari mana mereka hendak memulai perjalanan, tujuan perjalanan, serta waktu tiba/ berangkat yang diinginkan. Journey planner akan memberi pilihan-pilihan rencana perjalanan, dan calon penumpang dapat memilih salah satu untuk diikuti.

‘Apa perbedaan dunia remaja Indonesia dan Australia?’ Saya mendapat pertanyaan tersebut beberapa waktu yang lalu, dan di artikel ini, saya berusaha menjawab apa yang saya pikirkan mengenai dunia remaja Indonesia dan Australia.

Saya berpikir bahwa dunia remaja di Indonesia dan Australia berbeda, salah satunya karena sistem sekolah di kedua negara tersebut berbeda. Menurut saya dunia sekolah sangat mempengaruhi dunia remaja karena remaja berada di sekolah setidaknya setengah hari. Jadi berikut ini saya akan mencoba meninjau perbedaan yang dipengaruhi oleh perbedaan dunia sekolah.

Kesempatan Mengungkapkan Pendapat

Sekolah di Australia memiliki kelas dengan ukuran yang lebih kecil dari Indonesia (paling banyak 30 murid). Ukuran kelas tersebut memungkinkan murid untuk aktif mengungkapkan pendapat dan berkreasi. Anak-anak bermasalahpun mendapat education assistant sehingga guru tetap bisa memperhatikan setiap anak di kelas dengan baik.

Sekolah Indonesia rata-rata memiliki antara 30-45 murid di setiap kelas. Hal ini membuat murid-murid Indonesia mendapat kesempatan mengungkapkan pendapat yang lebih kecil dibanding dengan murid-murid Australia. Tidak cukup waktu untuk mendengarkan pendapat setiap murid karena terlalu banyak murid. Tidak ada education assistant untuk murid yang bermasalah, jadi mungkin sekali bahwa ada murid yang merasa tidak diperhatikan karena guru memperhatikan murid yang lain.

Ujian yang Menentukan Naik Kelas atau Tidak

Di Indonesia, ada ujian setiap semester, setiap tahun, dan untuk kelas-kelas tertentu ada ujian nasional. Hasil ujian ini sangat menentukan apakah mereka akan naik kelas dan tinggal kelas. Di Australia ada ujian pula, namun anak-anak akan tetap naik kelas bagaimanapun hasil ujian mereka. Perbedaan sifat ujian ini mempengaruhi sikap murid di sekolah.

Di Indonesia, guru-guru tidak bisa mengabaikan ujian sehingga mereka berusaha mengajarkan apa yang akan diujikan kepada murid. Murid-murid Indonesia akan lebih serius dan mudah diatur untuk belajar karena kalau tidak belajar mereka akan gagal ujian. Dan apabila gagal ujian, mereka tidak naik kelas dan mereka akan malu sendiri. Sanksi sosial tidak naik kelas menurut saya cukup berat. Murid yang tidak naik kelas akan kehilangan teman-teman kelasnya (karena teman-temannya naik ke tingkat yang lebih tinggi sedangkan dia tidak) dan dianggap bodoh oleh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu murid-murid akan benar-benar berusaha untuk naik kelas.

Di Australia meskipun ada tes, anak-anak tidak belajar pun tidak menjadi masalah, karena jika gagal mereka tetap naik kelas. Ini membuat murid-murid Australia lebih santai dan lebih susah diatur.

Kehidupan di Luar Sekolah

Pekerjaan Rumah (PR)

Di Indonesia, guru-guru memberikan pekerjaan rumah dan tugas kelompok. Keadaan ini membuat murid-murid Indonesia menyediakan waktu 1-3 jam setiap harinya untuk membuat PR atau tugas kelompok. Sedangkan di Australia guru-guru berusaha untuk tidak memberikan PR. Semua pekerjaan diselesaikan di sekolah, sehingga remaja Australia mempunyai lebih banyak waktu untuk beristirahat atau bermain.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Di sekolah Indonesia, ada banyak kegiatan ekstrakurikuler dimana murid diwajibkan memilih satu kegiatan. Kegiatan yang didampingi guru ini biasa dimulai sepulang sekolah dan berlangsung kurang lebih 1.5 jam. Karena itu, murid-murid yang aktif bisa berada di sekolah dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore. Mereka tidak punya banyak waktu luang untuk bermain karena sepulang sekolah mungkin PR sudah menunggu untuk dikerjakan. Sedangkan di Australia, murid-murid tidak tinggal di sekolah setelah pelajaran selesai. Mereka harus pulang ke rumah atau mencari kegiatan sendiri.

Les/ Tutorial

Masih berkaitan dengan ujian yang dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting, murid-murid Indonesia yang merasa kurang mampu memahami pelajaran pergi belajar tambahan di sore hari di lembaga-lembaga. Ada pula yang memilih memanggil tutor datang ke rumah.

Kesimpulan yang dapat saya tarik dari keadaan-keadaan di atas adalah waktu luang murid-murid Indonesia lebih terbatas dibandingkan dengan murid-murid Australia. Selebih itu, kegiatan mereka sama seperti yang dilakukan remaja di seluruh dunia. Sebagian suka berolahraga, sebagian suka menekuni musik, sebagian suka bermain PS sebagian suka membaca buku dan lain-lain.

Quokka

quokka at rottnest island

Quokka adalah binatang khas Rottnest Island. Quokka memiliki kantung seperti kangguru, namun ukurannya hanya sebesar tikus. Karena di pulau ini mereka tidak memiliki predator (hanya ada beberapa elang yang tidak cukup kuat untuk memangsa quokka), jumlah quokka di pulau ini sangat tinggi, antara 7000-10.000 ekor.

Tahukah Anda bahwa bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di sebagian besar sekolah di Australia Barat? 187 sekolah (dasar dan menengah) dari 768 sekolah di Australia Barat memiliki mata pelajaran bahasa Indonesia*. Umumnya bahasa Indonesia mulai diajarkan satu kali seminggu mulai kelas 3 SD, tapi beberapa sekolah memulai pengajaran bahasa Indonesia di kelas 2, atau kelas 1 SD. Di sekolah-sekolah tersebut, Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib hingga kelas 8. Di kelas-kelas berikutnya, bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran pilihan,

Saat ini saya menjadi asisten guru bahasa Indonesia di Australia Barat. Di tahun-tahun sebelum saya terlibat dalam Indonesian Language Assistant Program saya tidak pernah tahu bahwa ada sekolah di luar negri yang mengajarkan bahasa Indonesia. Yang saya tahu, ada universitas atau lembaga yang mengajarkan bahasa Indonesia untuk penutur asing, tapi saya tidak pernah berpikir bahwa anak-anak sekolah dasar dan menengah juga mempelajari bahasa kita. Dan setelah mengetahui seluk beluk pengajaran bahasa Indonesia di sini saya benar-benar berdecak kagum dan bahkan terharu.

Usaha pengajaran bahasa Indonesia di Australia Barat dilakukan dengan sungguh-sungguh. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Sekolah-sekolah yang saya kunjungi memiliki ruangan bahasa Indonesia tersendiri. Setiap masuk ruangan-ruangan tersebut saya merasa terharu. Dinding-dinding dipenuhi poster-poster mengenai Indonesia, contoh: jenis makanan, pakaian tradisional, nama hari, nama bulan, warna (dalam bahasa Indonesia). Ada pula boneka berseragam sekolah anak-anak SD Indonesia (putih merah). Wayang kulit, topeng, angklung, miniatur rumah adat dan kendaraan tradisional dipajang di rak-rak. Buku cerita, majalah dan komik berbahasa Indonesia disediakan di rak tersendiri. Frase-frase berbahasa Indonesia seperti selamat pagi, selamat siang, apa kabar?,baik-baik saja, terimakasih, boleh saya ke kamar kecil?, boleh saya pinjam…, dengarkan, tulislah, ditulis di kertas dan dipajang di dinding untuk membantu murid-murid berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, Di sekolah menengah, poster-poster penyanyi Indonesia juga dipajang di dinding. Guru-guru benar-benar berusaha menampilkan apa saja yang dapat menarik minat siswa untuk mempelajari bahasa Indonesia.

Saya semakin terharu ketika menyaksikan proses belajar mengajar bahasa Indonesia. Guru memeriksa kehadiran murid dengan memanggil nama mereka satu-satu. Setiap murid menyahut ‘ada’ ketika namanya dipanggil. Di sekolah dasar, pelajaran seperti ‘siapa namamu?’ dan ‘nama saya …’ dilakukan berulang-ulang dengan aktivitas yang berbeda-beda. Tujuannya agar murid ingat meski jam belajarnya terbatas. Murid-murid juga belajar bernyanyi lagu-lagu Indonesia, misalnya Burung Kakatua (mereka suka bagian trekdung, trekdung, trekdung tralala). Di beberapa kesempatan mereka belajar bermain angklung, dan bahkan menari poco-poco. Mereka benar-benar menghargai bahasa dan budaya Indonesia.

Saya menulis artikel ini untuk sekedar bercerita bahwa bahasa dan budaya Indonesia sangat dihargai di sini. Jangan sampai kita, sebagai bangsa yang memiliki bahasa dan budaya tersebut justru tidak peduli atau malah lebih parah, menjunjung tinggi budaya barat dan melupakan budaya sendiri.

*berdasar situs Departemen of Education and Training of Western Australia